Rabu, 19 Oktober 2011

Mengatasi tantangan perubahan iklim


Mengatasi Tantangan Perubahan Iklim dengan :
Strategi, Revitalisasi, hingga Proyek Mercusuar

Julkhaidar Romadhon


PENDAHULUAN

            Iklim memang benar-benar  menunjukkan taji nya di dunia pertanian khususnya dunia perberasan di Indonesia. Bagaimana tidak ketika cuaca berjalan normal curah hujan rata sepanjang tahun panen pun lancar, produksi beras Indonesia surplus hingga bisa swasembada. Tetapi ketika iklim berubah seperti yang terjadi saat ini apa yang terjadi, panen banyak gagal, produksi padi turun.  Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin apakah padi yang ditanam akan bisa dipanen nantinya.
            Perubahan iklim akibat pemanasan global ini haruslah tidak dipandang enteng oleh pemerintah kita termasuk juga BULOG. Sudah menjadi rahasia umum ketika fenomena cuaca ekstreem seperti “ El Nino” dan “La Nina” terjadi, BULOG kesulitan menyerap gabah maupun beras petani. Keadaan seperti ini sangat mudah kita jawab, karena dimana-mana pasti gagal panen, kalau bisa panen kualitasnya pasti turun.
            Bagaikan makan si buah malakama, mau menyerap panen dengan kualitas rendah pasti akan berurusan dengan berbagai kritikan dan akhirnya  akan berujung ke ranah hukum. Jika tidak diserap gudang BULOG akan banyak yang kosong akhirnya fungsi stablisasi pangan tidak akan tercapai.
Mengandalkan beras Impor adalah salah satu jalan paling aman untuk mengatasi situasi iklim seperti ini, Kualitas tidak perlu diragukan lagi, kwantum tepat hingga waktu disalurkanpun tidak ada yang komplain. Tetapi apakah kita akan mengandalkan beras impor terus, coba bayangkan kalau beras di Negara tempat kita mengimpor beras yaitu Vietnam dan Thailand lebih mahal daripada beras di Indonesia, paling parah lagi adalah mereka juga mengalami krisis pangan juga sEhingga tidak ada stok sama sekali untuk di jual.
Keadaan di dalam Negeri pun juga harus kita pikirkan, terutama para wakil rakyat di DPR RI. Tidak semua anggota dewan setuju dan mengizinkan kita untuk impor beras. Mereka akan menanyakan sejauh mana usaha kita sehingga kita harus impor. Banyak yang tidak mau tahu, tentang keadaan yang sedang kita alami. Kalau sudah begini, kita bisa-bisa kerepotan. Alih-alih mereka mengerti dan membantu keadaan kita, justru yang paling ekstreem malah mengalihkan tugas kita Perum BULOG kepada Instansi atau BUMN lain, dan yang lebih parah adalah justru membubarkan kita. “ kalau sudah begini kita harus bagaimana lagi… (renungan bersama)???.
            Perubahan iklim yang ekstreem harus disikapi BULOG dengan cara yang ektreem pula. BULOG harus cepat bergerak dan tanggap mengatasi situasi yang terjadi seperti ini. Karena mengapa, iklim ini kedepannya atau tahun-tahun mendatang akan seperti ini juga. Kita tidak bisa lagi mengharapkan iklim yang normal terus.  Global warming atau pemanasan global harus kita jadikan pegangan bahwa cuaca kedepannya tidak akan lagi bersahabat.

            Cara-cara ekstreem yang bisa ditempuh BULOG adalah sebagai berikut :
1. Strategi Procurement (pengadaan)
            Pengadaan yang sulit, beras susah masuk ke gudang mitra tidak ada yang datang itulah fenomena yang terjadi di Divre maupun Subdivre saat ini. Mengapa bisa begitu : jawabnya mudah yaitu ada 2 kemungkinan yaitu pertama ada barang tapi gak ada harga. Kedua adalah ada harga tapi tidak ada barang.
Penjelasan pertama yaitu ada barang tapi gak ada harga adalah harga pembelian pemerintah (HPP) tidak sesuai lagi dengan harga yang ada di lapangan. Kalau begitu mudah saja untuk mengatasinya, pemerintah hanya cuma menaikkan  HPP. selesai. Tetapi persoalannya tidak segampang itu, buktinya sekarang HPP tidak naik, pemerintah beralasan kenaikkan HPP akan memicu kenaikkan barang-barang lainnya, karena beras adalah lokomotiv naiknya harga pangan yang lain.
Sebenarnya BULOG bisa mengatasi hal tersebut diatas dengan strategi pengadaan yang tepat. BULOG tidak hanya menerjunkan satgas pengadaan untuk membeli langsung ke petani tetapi harus juga memangkas aturan administrasi yang berbelit-belit. Administrasi yang berbelit-belit seperti harus ada lantai jemur, penggilingan, surat izin atau surat-menyurat dalam bentuk apapun harus dihilangkan. Ini untuk memudahkan petani menjual langsung kepada BULOG tanpa terkendala hal-hal tersebut.
BULOG bisa mempersilakan para petani untuk menjual hasil taninya langsung tanpa harus melalui mitra.  BULOG harus siap menampung beras petani walaupun sedikit. Untuk itu BULOG harus bekerjasama dengan wadah-wadah atau perkumpulan petani yang ada di daerah-daerah untuk lebih mempermudah mekanisme penyerapan.



2. Revitalisasi UPGB
            UPGB atau unit pengolahan gabah beras yang dimiliki BULOG sekarang banyak yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. UPGB yang berjumlah 123 unit dan tersebar di seluruh Indonesia ini kalau optimal kerja nya pasti sangat membantu pengadaan beras dalam keadan iklim yang ekstreem seperti ini.
            Cara ekstreem yang harus dilakukan BULOG ke depannya dalam usaha revitalisasi UPGB adalah mulai dengan identifikasi permasalahan, karena Permasalahan UPGB yang satu tidak sama dengan permasalahan UPGB yang lain. BULOG harus membuat tim untuk mengidentifikasi satu per satu permasalahan tiap-tiap UPGB. Permasalahan yang timbul antara lain :
1.  Lokasi UPGB
            Lokasi UPGB sangat menentukan keberhasilan sebuah UPGB. Lokasi yang jauh dari sentra pertanian sama saja membunuh pelan-pelan UPGB tersebut. Jikalau hasil dari identifikasi tim UPGB tersebut lokasinya sudah tidak layak operasi  ada baiknya langsung diambil tindakan.
2. Mesin UPGB
UPGB yang ada di Divre Selindo mesin nya belum tentu baik semua. Oleh karena itu perlunya identifikasi sehingga bisa diketahui keadaan 123 mesin UPGB Bulog di seluruh Indonesia apakah masih layak atau tidak. Sehingga bisa disimpulkan apakah dilakukan Optimalisasi atau harus Revitalisasi.
3.  Rekrutmen Sumber Daya Manusia
            Sumber Daya Manusia dimaksud disini adalah tenaga ahli dalam hal permesinan yaitu operator maupun teknisi. Teknisi ini bisa direkrut orang dengan latar belakang pendidikan mesin yang kemudian kita didik sehingga ia benar-benar memahami permasalahan mesin UPGB. Karena selama ini kendala dari operasional teknis UPGB adalah tidak adanya teknisi handal yang bisa memperbaiki kerusakan mesin apabila proses sedang berlangsung. 

3. Proyek Mercusuar
            Ke depan BULOG tidak bisa lagi menganggap enteng permasalahan iklim ini. Apalagi fungsi BULOG sebagai stabilisator pangan juga diwajibkan mencari keuntungan. BULOG harus berani mengambil langkah cepat kalau tidak mau di libas pihak lain di masa mendatang.
            Investasi besar-besaran sangat diperlukan dalam hal processing beras. BULOG tidak bisa lagi mengandalkan mesin-mesin UPGB yang sudah mulai berkarat dan menjadi besi tua. Harus ada kajian ke depannya apakah lebih menguntungkan untuk mengembangkan UPGB yang sudah ada ataukah perlunya proyek mercusuar yang baru.
            Proyek mercusuar disini adalah investasi BULOG besar-besaran untuk membuat sebuah pusat pengolahan beras yang besar dan lengkap. Mulai dari Investasi mesin pengeringan dan penggilingan yang modern, pengemasan dan pengepakan beras premium hingga sumber daya manusia yang ahli dan professional.
            Banyak para pejabat BULOG yang melakukan studi banding ke berbagai Negara yang berhasil dalam hal perberasan ini. Tentu takkan sulit bagi BULOG untuk mengambil contoh pusat pengolahan yang modern dan professional pengelolaannya. Proyek Mercuar ini harus ditempatkan pada lokasi yang strategis dan pusat pengadaan beras. Jika proyek mercusuar ini sudah terwujud, mimpi-mimpi BULOG untuk menjadi andalan ketahanan pangan akan terwujud. Dengan teknologi perberasan yang modern BULOG mampu menghasilkan jenis beras macam apapun sehingga bisa bersaing di bisnis komersialnya. UPGB yang ada saat ini bisa diposisikan sebagai pensupplai bahan baku atau bahan setengah jadi untuk diproses kembali menjadi kualitas super di proyek mercusuar ini. Sehingga akan ada sinergi antara UPGB dengan pusat penggilingan BULOG terbesar dan termodern ini.

PENUTUP
            Keadaan iklim yang ektreem seperti ini harus disikapi BULOG secara ektreem pula. Karena iklim seperti ini adalah awal pertanda bahwa ke depannya iklim tidak akan bisa bersahabat lagi. Ide-ide cemerlang dan terobosan-terobosan baru sangat diperlukan untuk mengatasi keadaan-keadaan seperti sekarang ini.
            Diperlukan sebuah keberanian dan komitmen dari para pejabat BULOG untuk mengambil tindakan-tindakan signifikan dalam situasi sulit seperti sekarang ini. Karyawan-karyawati BULOG akan memberikan dukungan penuh sebuah terobosan baru demi kemajuan BULOg ke depan. Dirgahayu BULOG ke-44, kami akan selalu membelamu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar