Monday, 1 April 2013

AGRIBISNIS DAGING SAPI



PENERAPAN SISTEM AGRIBISNIS ;
SOLUSI MENGATASI MEROKETNYA HARGA DAGING SAPI
*) Julkhaidar Romadhon

Meningkatnya konsumsi protein merupakan indikator meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Sudah selayaknya  stabilisasi harga daging dilakukan oleh pemerintah layaknya stabilisasi harga  pada beras.

Tradisi hari-hari besar seperti puasa, lebaran, natal dan tahun baru adalah kegiatan agama rutin tahunan di negeri kita ini. Kegiatan tersebut biasanya diiringi dengan peningkatan konsumsi bahan pangan, tidak terkecuali daging.  Walaupun konsumsi daging di Indonesia tidak setinggi di Negara-negara lain, tetapi bahan masakan dari daging harus tetap tersedia di meja makan. Kenaikan harga daging tidak terasa aneh jika terjadi pada momen-momen seperti itu, tetapi uniknya di negeri ini kenaikan tersebut terjadi pada hari-hari biasa.
Harga daging akhir-akhir ini mengalami kenaikan yang cukup drastis, yang semula berkisar antara Rp 60 ribu – 70 ribu/kg naik menjadi Rp 100 ribu/kg, bahkan dibeberapa daerah malah hampir menyentuh Rp. 150 ribu/kg.  Kenaikan tersebut memang diinginkan oleh banyak pihak terutama yang bersentuhan langsung dengan bisnis ini seperti peternak, pengusaha/pedagang sampai importer untuk menambah margin keuntungan mereka. Mereka seakan tidak mau tahu dampak dari perbuatan tersebut dan susahnya masyarakat akan menkonsumsi daging.
MERESAHKAN BANYAK PIHAK
Kelangkaan daging sapi jelas merugikan banyak pihak terutama masyarakat dan pengusaha yang usahanya berhubungan dengan daging sapi. Seperti pedagang bakso yang harus menggunakan daging sapi sebagai bahan campuran pentol bakso, rumah makan yang menyediakan masakan seperti rendang, pengusaha yang membuat sosis sapi serta ibu rumah tangga yang akan memasak daging untuk keluarganya. Tentunya berbagai cara akan dilakukan masyarakat untuk mensiasati kelangkaan daging yang terjadi. Misalnya, pedagang bakso akan menaikkan baksonya untuk mengimbangi naiknya harga daging, atau juga mereka berhenti dulu berjualan  karena takut baksonya tidak laku, malah yang lebih ekstreem banyak pedagang bakso nakal yang menggunakan daging celeng. Bagi rumah makan, mereka bisa mensiasati dengan memperkecil ukuran daging yang dihidangkan atau menaikkan harga jual, bagi rumah tangga mereka dapat mengganti dengan barang substitusi lain seperti dengan daging ayam. Yang jelas kelangkaan daging jika tidak segera diatasi akan membuat banyak masyarakat menjadi susah.
FAKTA PENYEBAB KENAIKAN DAGING SAPI
Banyak pihak tentu terlibat sebagai penyebab daripada kelangkaan daging sapi. Pihak-pihak tersebut saling tuding sebagai penyebab kelangkaan daging sapi tersebut. Pihak-pihak yang terlibat antara lain adalah;  pedagang sapi, pengusaha sapi hidup, importir daging sapi, serta pemerintah dalam hal ini kementerian pertanian.
1. Produsen/pengusaha sapi hidup
Pengusaha sapi juga banyak dituding sebagai penyebab kenaikan harga daging sapi, karena faktanya harga sapi hidup tidak mengalami lonjakan yang berarti tetapi harga daging sapi mengalami lonjakan harga yang tinggi. Kuat dugaan mereka sengaja menahan sapi hidupnya untuk dijual agar dapat menaikkan harganya ketika harga daging sapi meroket.
2. Pedagang sapi
Pedagang sapi yang dalam hal ini adalah pedagang eceren dipasar dan pedagang besar memiliki peranan penting dalam melakukan proses penawaran/supply daging ke pasaran. Pedagang lah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat pembeli daging di pasaran. Mereka bisa saja menaikkan harga dari produsen untuk menikmati keuntungan yang lebih besar bahkan menahan stoknya sementara terlebih dahulu, sehingga marjin keuntungannya makin bertambah.
3. Importir daging sapi
Pemangkasan kuota impor daging sapi yang begitu besar dari 100 ribu ton pada tahun 2011 menjadi 34 ribu ton sapi di tahun 2012 dan menjadi 14 ribu ton di tahun 2013 membuat pihak importer merasa dirugikan. Dengan merasa mengalami kerugian, tidak menutup kemungkinan pihak importer dengan sengaja membuat kelangkaan pasokan. Mereka akan melepas stok yang mereka imnpor dari Negara lain ketika harga daging sudah benar-benar bisa memberikan keuntungan yang lebih banyak (Tempo.co. 12/11/12).
4. Kementrian pertanian
Kebijakan pemerintah yang dalam hal ini adalah kementerian pertanian yang berupaya mewujudkan swasembada daging pada tahun 2014 dituding juga berpengaruh besar terhadap kelangkaan daging sapi. Pengurangan impor dari tahun ke tahun hingga nihil pada tahun 2014, sementara peternak lokal belum mampu mengantisipasi permintaan pasar  turut memperparah kelangkaan daging sapi ini juga. Ditambah lagi dengan persoalan infrastruktur logistic pengangkutan sapi dari sentra produksi ke daerah konsumen seperti DKI, Jabar dan Banten yang belum terselesaikan(Tempo.co. 17/11/12).
TERGANGGUNYA KURVA DEMAND & SUPPLY
Teori harga menyatakan bahwa “jika suatu barang banyak ditawarkan sedangkan permintaan relative tetap tentunya harga akan turun, sedangkan sebaliknya jika barang yang ditawarkan sedikit sedangkan permintaan relative tetap maka tentunya harga akan naik”. Teori ini pun juga berlaku pada kasus daging sapi yang mengalami kelangkaan akhir-akhir ini. Terlepas  tudingan mengenai siapa yang salah dalam hal kenaikan harga daging sapi, yang jelas telah terjadi gangguan keseimbangan kurva harga akibat kurangnya pasokan daging dipasaran. Distribusi yang terlambat dan tidak merata akibat infrastruktur yang rusak, serta para pedagang dan importer yang melakukan penimbunan stok merupakan penyebab utama dari gangguan keseimbangan harga tersebut.
Keseimbangan harga yang terganggu jika tidak segera diatasi akan menyebabkan harga tersebut terus meroket. Penambahan pasokan daging sapi ke pasaran mutlak diperlukan untuk menambah penawaran di pasaran dan menyeimbangkan  harga pada harga semula. Oleh karena itulah peran pemerintah dalam hal mengatasi kelangkaan daging sapi dipasaran sangat dibutuhkan. Pemerintah harus turut campur dan mengambil peran lebih agar keadaan dapat teratasi serta tidak menimbulkan keresahan ditengah masyarakat.
PENERAPAN SISTEM AGRIBISNIS
Kelangkaan daging sapi dipasaran yang mengakibatkan meroketnya harga daging menunjukkan bahwa adanya ketidakefektifan suatu program. Program swasembada daging pada tahun 2014 yang dicita-citakan pemerintah memang perlu didukung oleh masyarakat. Tetapi pemerintah juga jangan asal mencanangkan suatu program tanpa ada kejelasan sistem yang mendukungnya. Program swasembada daging harus dilihat sebagai suatu system agribisnis yang komprehensif bukan sepotong-sepotong. Pemerintah harus memperhatikan hal tersebut mulai dari sektor hulu sampai ke hilir atau dari produsen sampai ke konsumen.  Sehingga dengan demikian kejadian kelangkaan seperti ini bisa dideteksi sejak dini, tanpa harus saling menyalahkan pihak lain. Sistem agribisnis untuk mendukung penguatan program swasembada daging terdiri dari beberapa subsistem yang  antara lain adalah :
1. Subsistem hulu
Sektor ini merupakan sektor awal yang penting peranannya dalam memasok kebutuhan daging. Kegiatan disektor ini melibatkan produsen yaitu peternak yang menghasilkan bibit sapi anakan. Pemerintah melalui kementerian pertanian bisa membina para pembibit anakan sapi ini melalui suatu wadah yaitu koperasi. Dengan koperasi pemerintah bisa melakukan pembinaan terhadap peternak dan menjalankan program unggulan dan bantuan. Program unggulan tersebut misalnya melakukan persilangan sapi jenis lokal yang mempunyai produktivitas daging tinggi, atau mendatangkan jenis sapi dari Negara lain yang memiliki produktivitas daging yang melampaui sapi lokal.
Selain itu juga melalui wadah koperasi ini pemerintah mudah dalam melakukan pengawasan dan pelarangan seperti adanya peternak yang menjual hewan ternaknya atau malah melakukan pemotongan sapi betina yang produktif. Manfaat lain juga yaitu, pemerintah dapat mengetahui seberapa banyak bibit sapi yang tersedia dipeternak. Sehingga pemerintah ke depannya bisa memperkirakan berapa kebutuhan daging sapi yang tidak mampu dipasok oleh peternak lokal.
2. Subsistem usahatani/pengembangan.
Subsistem ini kegiatan utamanya adalah menghasilkan komoditas pertanian atau produk primer dengan menggunakan barang-barang modal dan sumber daya alam. Kegiatan yang bisa dikategorikan subsistem usahatani pada peternakan sapi adalah proses penggemukan sapi. Proses penggemukan sapi ini sangat penting peranannya dalam menghasilkan sapi-sapi yang memiliki produktivitas daging tinggi. Pemerintah bisa melakukan penggabungan dimana peternak penghasil bibit sapi langsung sekaligus menjadi peternak penggemukan sapi. Sehingga dengan demikian proses pembinaan, pengawasan akan lebih mudah lagi dilakukan dalam satu tempat.
3. Subsistem pengolahan
Subsistem ini kegiatan utamanya mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan berupa produk antara dan produk akhir. Pada peternakan sapi kegiatan yang termasuk kategori ini adalah mulai pemotongan sapi sampai dengan pengemasan daging olahan sapi.
4. Subsistem pemasaran
Subsistem ini kegiatan utamanya adalah memperlancar pemasaran komoditas pertanian baik segar maupun olahan untuk nasional dan ekspor ke luar negeri seperti distribusi, konsumsi, promosi, dan informasi pasar.

5. Subsistem jasa pendukung
Subsistem ini kegiatan utamanya adalah menyediakan jasa bagi subsistem agribisnis hulu, subsistem usaha tani dan subsistem agribisnis hilir seperti penelitian, perkreditan, transportasi dan penyuluhan.
Dengan memandang usaha peternakan sapi sebagai suatu system agribisnis diharapkan keberlanjutan daging sapi tidak hanya di tahun 2014 saja tetapi diharapkan dapat terjadi pada tahun-tahun setelahnya. Walaupun memerlukan waktu yang panjang tetapi penerapan system agribisnis ini merupakan langkah konkret pemerintah sembari menentukan langkah-langkah terobosan untuk jangka pendek.

LANGKAH TEROBOSAN PEMERINTAH
Kementerian BUMN yang merupakan bagian dari pemerintah juga diam-diam menyiapkan strategi untuk ambil bagian dalam mengatasi fenomena kelangkaan yang sedang terjadi, walaupun tugas tersebut merupakan tugas utama kementerian pertanian. Langkah terobosan yang dilakukan antara lain seperti BUMN yang mengelola perkebunan sawit disuruh juga untuk beternak sapi, menunjuk PT berdikari untuk berfokus pada peternakan yang melakukan tugas penggemukan sapi dimana hasilnya akan bisa dinikmati tiga tahun lagi. Selain itu juga, kapal-kapal PT PELNI mulai dirubah menjadi 3 in 1, yaitu untuk penumpang, barang dan ternak, walaupun desain perubahannya memakan waktu dan hasilnya bisa terlihat beberapa bulan ke depan. Selain itu juga PT rajawali mulai mengelola rumah pemotongan di Lombok untuk mengangkut daging sapi dari Lombok ke Jakarta.
Yang tidak kalah pentingnya yang harus segera dilakukan pemerintah dalam waktu dekat ini adalah mengawasi aliran daging yang berasal dari luar negeri yang dimasukkan oleh importir. Importir bisa saja melakukan penimbunan stok daging sapi untuk menambah margin keuntungan mereka. Hal ini bisa saja terjadi, karena mereka prinsipnya mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan mengeluarkan modal yang sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, sangat mutlak jika impor daging ini dilakukan oleh satu lembaga pemerintah saja, sehingga aliran daging ke pasaran dapat diketahui. Selain itu juga lembaga pemerintah tidak mempunyai motif lain seperti pengusaha, yaitu hanya mengejar kepentingan semata. Sudah saatnya sekarang, pemerintah melakukan langkah-langkah terobosan agar kesemrawutan ini tidak terjadi lagi.

*) Staf SDM & Hukum
Divre Sumatera Selatan

Thursday, 28 February 2013

REVITALISASI PENGGILINGAN PADI



REVITALISASI TEKNOLOGI PENGGILINGAN PADI
 DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN
Oleh : Julkhaidar Romadhon*)

A. Pendahuluan
Tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap beras, tergolong cukup tinggi sampai saat ini. Beras masih dijadikan primadona makanan pokok rakyat dibandingkan jagung, sagu dan umbi-umbian. Secara nasional, jumlah konsumsi setiap orangnya mencapai 139 kilogram setiap tahunnya. Dengan demikian, untuk mencukupi kebutuhan beras tingkat nasional, dengan asumsi penduduk lebih kurang 240 juta jiwa dibutuhkan setidaknya 33 juta ton per tahun (BPS, 2010).
Guna memenuhi pasokan beras, pemerintah harus meningkatkan produksi padi dan gabah nasional. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya memfokuskan diri pada produksi panen saja tetapi juga dituntut untuk mengatur soal kegiatan maupun kualitas formula penggilingan padi (PP) yang beredar di masyarakat. Penggilingan padi merupakan kunci utama untuk peningkatan kuantitas dan kualitas beras yang dihasilkan. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah kebijakan yang menyeluruh seputar panen dan pasca panen agar produktivitas perberasan nasional terus meningkat.

B. Arti dan Peranan Teknologi Penggilingan Padi dalam Sistem Perberasan di Indonesia
            Teknologi merupakan sumber daya buatan manusia yang kompetitif dan selalu mengalami perkembangan yang cepat. Penggunaan teknologi akan mengubah input menjadi output yang diinginkan (Gumbira-Said, et, al.,2001). Teknologi terdiri dari empat komponen sebagai berikut :
1)      Technoware, yang merupakan bagian dari fasilitas fisik seperti mesin serta peralatan yang dapat meningkatkan kekuatan manusia serta mengontrol jalannya
2)      Humanware, yang merupakan bagian dari kemampuan manusia itu sendiri, misalnya keterampilan, keahlian dan kreativitas yang memperlihatkan nilai yang sesungguhnya dari sumber daya manusia yang tersedia.
3)      Infoware, fakta dan informasi yang tercatat, seperti desain, spesifikasi dan cetak biru yang memungkinkan cepat dipelajari serta berbagai informasi, misalnya database.
4)      Orgaware, metode, jaringan kerja sama (networking), serta berbagai praktik yang berfungsi untuk mengkoordinasikan kegiatan untuk mencapai hal yang diinginkan.

Menurut Pattiwiri (2010), Penggilingan padi yang mempunyai teknologi modern menerapkan beberapa rangkaian mesin menjadi satu. Rangkaian mesin tersebut memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda. Rangkaian mesin minimal yang harus ada dalam penggilingan padi adalah berupa;
a)            Precleaner yaitu mesin pembersihan awal untuk membuang kotoran-kotoran dan benda asing dari gabah sehingga beras hasil penggilingan nantinya akan terbebas dari benda asing.
b)            Husker yaitu mesin pemecah atau pengupas kulit yang bertujuan melepaskan kulit gabah dengan kerusakan yang sekecil mungkin pada butiran beras.
c)            Aspirator, yaitu mesin untuk memisahkan sekam yang bertujuan memisahkan sekam dari beras pecah kulit dan gabah utuh yang belum terkelupas selama proses pemecahan kulit.
d)           Separator, yaitu mesin untuk memisahkan gabah dan beras pecah kulit agar tidak tercampur.
e)            Polisher, yaitu mesin penyosoh yang bertujuan untuk membuang lapisan bekatul dari butiran beras agar penampakannya lebih mengkilap.
f)             Grader, yaitu mesin untuk memisahkan beras berdasarkan ukuran agar dihasilkan beras menurut selera yang diinginkan.

C. Permasalahan Teknologi Penggilingan Padi di Tanah Air
Menurut data BPS (2002), Jumlah penggilingan padi di Indonesia sebanyak 108.512 unit dan diperkirakan paling tidak sebanyak 65 % penggilingan padi di Indonesia adalah penggilingan padi kecil  (PPK) dan rice milling unit (RMU) yang masih menggunakan sistim kerja one pass.
Konfigurasi mesin yang terdiri dari husker dan polisher ini akan menghasilkan rendemen yang kecil dan mutu beras yang jelek. Hal ini dikarenakan prinsip kerja dari mesin tersebut yang sederhana yaitu gabah langsung masuk ke husker kemudian jadi beras lalu langsung disosoh dengan polisher. Gabah yang masuk ke husker atau mesin pemecah kulit ini tidak seluruhnya jadi beras pecah kulit sehingga hasil akhir pada polisher beras masih banyak tercampur dengan gabah. Selain itu juga, mesin yang hanya memiliki satu polisher akan membuat beras banyak yang menjadi patah akibat gesekan yang terlalu keras dibandingkan dengan mesin yang memiliki dua atau tiga polisher. Kalau sudah begitu jelas akan berakibat ke hasil akhir berupa rendemen giling yang berkurang.  
Hasil Penelitian Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian tahun 2003 menunjukan, bahwa rendemen penggilingan padi yang telah dicapai sebagai berikut : Penggilingan Padi Kecil (PPK) memiliki rendemen rata-rata 55,7 % dengan kualitas beras kepala 74,25% dan beras patah 14,99%. Penggilingan Padi Menengah (PPM) memiliki rendemen rata-rata 59,69% dengan kualitas beras kepala 75,73% dan beras patah sebesar 12,52%. Penggilingan Padi Besar (PPB) memiliki rendemen rata-rata 61,48% dengan kualitas beras kepala 82,45% dan beras patah sebesar 11,97%.
Dampak yang disebabkan karena banyaknya penggilingan padi kecil dan mobile secara nasional menurut data perpadi setiap tahunnya beras yang terhilang atau terbuang akibat tercampur sekam saat proses penggilingan padi mencapai sekitar 3 persen dari 58 juta ton beras yaitu 1,2 juta ton beras dimungkinkan lenyap selama proses penggilingan dan berkumpul dalam bentuk sekam yang setara dengan nilai beras Rp 6 triliun per tahun (Kompas, 2001).
D. Revitalisasi Teknologi Penggilingan Padi
Menurut Gaybita (2009), Penggilingan padi merupakan kunci dalam penentu mutu beras yang beredar di pasar. Untuk bersaing di pasaran mutu beras diharapkan         memenuhi persyaratan yang sesuai dengan kebutuhan pasar, baik pasar lokal maupun internasional. Untuk itu, perbaikan mutu ditingkat penggilingan padi harus menjadi fokus dalam perbaikan mutu beras.  
Perbaikan mutu beras ditingkat penggilingan padi dapat dilakukan melalui “program revitalisasi penggilingan padi” yang antara lain dapat dilakukan adalah :
1)      Inovasi Teknologi Penggilingan Padi
Inovasi dalam penggilingan padi harus difokuskan kepada penggilingan padi kecil. Inovasi dapat dilakukan dengan perbaikan konfigurasi mesin yaitu menata kembali mesin-mesin yang telah ada sehingga kinerjanya optimal atau melalui penambahan jenis mesin tertentu yang tidak mahal. 
Penggilingan padi kecil (PPK) dapat dilakukan penambahan jenis mesin  separator (pemisah gabah dan beras pecah kulit) dan satu buah polisher (mesin penyosoh). Dengan demikian gabah dan beras pecah kulit akan dipisahkan oleh separator, yang masih dalam bentuk gabah akan kembali masuk ke dalam husker sedangkan beras pecah kulit akan diteruskan ke polisher satu dan polisher dua untuk menjadi beras bermutu tinggi.
Penambahan mesin ini dapat dilakukan pemerintah melalui Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dengan syarat mereka harus mendapatkan bimbingan teknis mengenai operasional dan perawatannya, pengetahuan manajemen usaha, serta pendampingan dan penguatan kelembagaan usaha dalam bentuk pemberian bantuan keuangan untuk operasional alat mesin penggilingan padi.
2)      Perbaikan proses kerja
Jikalau inovasi teknologi penggilingan padi dapat dilakukan maka solusi yang lain adalah dengan cara melakukan perbaikan proses kerja. Perbaikan proses kerja dapat dilakukan dengan cara penggilingan padi kecil hanya menghasilkan beras pecah kulit yang selanjutnya diolah di penggilingan padi besar menjadi beras giling. Dengan adanya pembagian kerja ini, kehilangan susut yang lebih besar serta beras banyak  yang patah akan terhindarkan.
3)      Penambahan Mesin Pendukung
Tambahan mesin pendukung selain mesin utama sangat membantu dalam peningkatan kuantitas dan kualitas beras. Mesin pendukung disini dapat berupa dryer yaitu mesin untuk mengeringkan gabah. Dengan dryer maka petani tidak lagi terkendala oleh cuaca walaupun di musim hujan. Dryer juga dapat mengeringkan gabah dengan sempurna. Gabah yang kering merata akan mempermudahkan dalam proses penggilingan selanjutnya untuk menghasilkan mutu beras yang baik.
4)      Perbaikan cara pandang dan manajemen
Cara pandang pengusaha penggilingan padi tentang kualitas beras yang dihasilkan beras harus diubah. Cara pandang sederhana yang mengatakan kalau sudah untung mau ngapain lagi harus dikikis habis, karena mereka tidak akan termotivasi untuk menghasilkan beras dengan mutu yang lebih tinggi. Selain cara pandang tersebut,  masalah lain yang tidak kalah pentingnya adalah manajemen yang konvensional. Manajemen yang konvensional disini dapat berupa pembukuan yang tidak jelas, sehingga tidak  diketahui berapa untung dan ruginya dalam berusaha tani.
Untuk mengatasi ke dua hal tersebut, pengusaha penggilingan padi dapat diberikan pelatihan, magang dan studi banding. Dengan adanya kegiatan tersebut wawasan mereka akan bertambah, pengalaman dari pengusaha penggilingan padi lain dapat diserap sehingga harapan untuk menjadi pengusaha penggilingan padi dengan konsep manajemen modern dapat terwujud.
E. Peran dan Dukungan Pemerintah
Peran dan dukungan pemerintah dalam program revitalisasi teknologi penggilingan padi sangat diharapkan. Pemerintah dapat memfasilitasi dan mendorong Persatuan Penggilingan Padi (PERPADI) untuk tampil kedepan menjadi motor bagi pembaharuan sistem dan usaha agribisnis perberasan nasional. Selain itu juga PERPADI bisa sebagai avalis bagi Gapoktan dalam mendapatkan kredit modal usaha, penyedia sarana produksi, penampung gabah petani, penyedia suku cadang alsintan, pengolah hasil samping, lumbung pangan dan sebagai pemasar beras. Selain mendorong PERPADI pemerintah juga dapat memberikan fungsi yang lebih besar kepada BULOG untuk menyerap hasil sebanyak-banyaknya dari beras yang dihasilkan oleh pengusaha penggilingan padi.
Dengan demikian revitalisasi penggilingan padi ini tidak hanya diharapkan adanya peningkatan rendemen, dan mutu gabah/beras tetapi ada hal lain yang lebih penting yaitu adanya perbaikan pendapatan dan kesejahteraan petani serta pelaku usaha. Masyarakat perdesaan sejahtera, masyarakat di perkotaan merasa aman dalam hal tercukupinya kuantitas dan kualitas beras sebagai makanan pokok. Sehingga program pemerintah dalam hal pengentasan kemisikinan di perdesaan lambat laun akan menjadi kenyataan dan tujuan sebenarnya dari pembangunan pertanian juga akan tercapai dengan sendirinya.
F. Penutup
            Program revitalisasi pertanian melalui inovasi teknologi penggilingan padi, perbaikan proses kerja, penambahan mesin pendukung, serta perbaikan cara padang dan manajemen diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas beras di tanah air. Selain itu juga peran serta dukungan pemerintah juga sangat sebagai fasilitator dengan mendorong PERPADI dan BULOG sebagai motor penggerakan perbaikan kuantitas dan kualitas.
            Dengan terjalinnya sinergi program revitalisasi teknologi penggilingan padi melalui dukungan pemerintah dapat menjawab permasalahan kunci kehilangan susut hasil dan mutu beras yang selama ini terjadi di Indonesia. Dengan begitu kesejahteraan masayarakat pedesaan akan meningkat, dan tujuan utama pembangunan pertanian untuk mengentaskan kemiskinan penduduk di pedesaan akan terselesaikan dengan sendirinya.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. 2002. Data Jumlah Penggilingan Padi di Indonesia. www.bps.go.id. Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2010. Data dan Jumlah Persentase Konsumsi Perkapita Penduduk di Indonesia. www.bps.go.id. Jakarta.
Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. 2003. dalam Workshop Revitalisasi Penggilingan Padi. Wisma YTKI Jakarta tanggal18 Jun 2009. Jakarta
Gaybita, Nur M. 2009. Peningkatan Mutu Beras. Persatuan Penggilingan Padi dan Beras Indonesia. Jakarta.
Gumbira-Said, E Rahmayanti dan M.Z. Muttaqien. 2001. Manajemen Teknologi Agribisnis. Kunci Menuju Daya Saing Global Produk Agribisnis. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Kompas. 2001. Meningkatkan Rendemen Dan Kualitas Beras Giling Melalui    Revitalisasi Sistem Penggilingan Padi Rakyat. http. Perpadi.or.id.
Pattiwiri, Abdul Waries. 2010. Teknologi Penggilingan Padi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
*) Divre Sumatera Selatan
    Staf SDM dan Hukum